Kamis, 22 Februari 2024

Datiak.com

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini dan Info Terkini

250 Hektare Sawah di Tanahdatar Telantar karena tak Terairi

Ilustrasi sawah kekeringan. Di Tanahdatar, sekitar 250 hektare sawah terlantar lantaran tidak teraliri air sejak 2018. (Foto: Dok. Datiak.com)
344 pembaca

Tanahdatar | Datiak.com – Sekitar 250 hektare sawah di Tanahdatar terlantar. Tepatnya yang berada di Jorong Kajai, Nagari Tepiselo, Kecamatan Lintaubuo Utara. Hal itu karena rusaknya lima unit kepala bandar (bendungan) yang ada di sana sejak tahun 2018 silam. Sehingga, sawah di Tanahdatar pun tidak teraliri air.

Rusaknya kelima bendungan kepala bandar itu disebabkan terjangan galodo yang terjadi di Nagari Tanjungbonai, Kecamatan Lintaubuo Utara, pada 2018. Aliran galodo itu menyatu dengan aliran Batang Selo dan merusak lima bendungan kepala bandar serta ikut merusak satu unit jembatan di Jorong Kajai kala itu.

Sejak saat itu, lima tali bandar yang biasanya mengaliri persawahan warga Jorong Kajai tidak lagi berfungsi. Sehingga, sawah di Tanahdatar yang berada di jorong tersebut tidak lagi berpoduksi padi, karena tidak bisa digarap disebabkan tidak adanya air yang mengaliri.

Kepala Jorong Kajai Yulizar mengatakan, akibat minimnya pasokan air, masyarakat kini banyak  melakukan alih fungsi lahan. Lahan yang sebelumnya sawah di Tanahdatar tersebut, kini telah menjadi ladang. Pada umumnya, sebagian besar petani daerah itu menanam jagung dan ubi jalar. Namun, hal itu baru dilakukan setahun terakhir.

Sebelum itu, hanya duri berbatang yang tumbuh di sawah-sawah masyarakat yang luasnya lebih kurang 250 hektare. “Biasanya masyarakat kita menghasilkan beras, kini udah membeli beras, jikapun hasil dari jagung menjanjikan, tetap hasil penjualan jagung itu kembali dibelikan untuk beras. Namun, tentu kebiasaan berubah, dari menyimpan dan menjual beras, sekarang berubah menjadi membeli,” kata Yulizar saat ditemui di Jorong Kajai, Minggu kemarin (16/1).

Yulizar mengatakan, kelima kepala bandar primer yang rusak itu antara lain, Kapalo Bandar Limau Sundai yang ada di Jorong Mudiak Lindan rusak dihantam aliran galodo saat pengerjaan kala itu.  Kemudian kepala bandar Koto di Jorong Mudiak Lindan, kepala bandar Paritrantang di Jorong Ujungtanah, Kepala Bandar Sawahloweh di Jorong Ujungtanah, dan kepala bandar Kodok di Jorong Kajai.

“Kelima bandar itu berbeda letaknya namun tetap untuk mengairi sawah masyarakat kita yang ada di  Jorong Kajai, bahkan sampai ke sawah masyarakat di Sawahgadang Nagari Lubukjantan,” terangnya.

Dari kelima kepala bandar itu, sebutnya, baru satu kepala bandar Parit Rantang yang diperbaiki pada tahun 2020 lalu, dan tahun 2021 dilanjutkan perbaikan untuk tali bandarnya. “Bantuan itu dari pemkab melalui instansi Dinas Pertanian yang pengerjaannya diserahkan kepada kelompok tani pengguna bandar itu sendiri,” jelasnya.

Sedangkan untuk empat kepala bandar lainnya, hingga saat ini masih belum tersentuh bantuan. Padahal masyarakat berharap adanya penanganan cepat. “Kita sudah ajukan perbaikan, bahkan setiap kali musrembang juga terus diprioritaskan, namun masih belum berhasil hingga saat ini,” sebutnya.

Yulizar mengatakan, setidaknya dari luas sawah tersebut lebih kurang 250 hektare itu terdiri dari hampir lebih  urang 150 pemilik maupun pengolah sawah di Tanahdatar itu. ”Untuk satu kali panen saja kerugian bisa diprediksi sangat  besar. Bahkan beberapa tahun panen padi tidak terolah sekalipun. Bisa dibayangkan beban masyarakat untuk membeli beras,” ujarnya.

Bahkan sebut Yulizar, awalnya sawah di Tanahdatar yang berada di jorong itu, tidak tersentuh sedikitpun. Sehingga, persawahan yang membentang luas dikaki perbukitan itu hanya ditumbuhi durian berbatang. “Sejak setahun  terakhir, masyarakat berinisiatif untuk menjadikan sawah di Tanahdatar itu sebagai ladang jagung. Nah, itulah yang akhirnya membantu ekonomi masyarakat, meskipun tetap harus membeli beras,” jelasnya.

Meskipun secara swadaya masyarakat berusaha membuat bendungan darurat, namun saat air Batang Selo besar terutama saat hujan lebat, bendungan sementara itu kembali dirusak oleh air. “Kita berharap pemkab melalui dinas terkait agar dapat segera mungkin membantu perbaikan irigasi kita di sini,” katanya.

“Agar warga kembali dapat memproduksi padi sebagai kebutuhan makanan pokok kita bersama. Dan lagi, kita ingin agar kebiasaan masyarakat seperti dahulu yang bisa menyimpan padi bisa tetap berlangsung, hingga masyarakat tidak terbebani dalam memenuhi kebutuhan pokok,” harapnya.

Sementara itu Eka Yeni, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Tanahdatar untuk Tepi Selo membenarkan terkait hal tersebut. Dia juga menyebutkan, tidak hanya irigasi yang saat ini butuh  perbaikan, akan tetapi juga jembatan yang rusak juga butuh diperbaiki karena jembatan itu sangat penting bagi masyarakat untuk mencari hidup.

“Memang benar baru satu kepala bandar yang diperbaiki, sisanya masih belum. Kita sudah laporkan hal itu sebelumnya, namun masih belum ada realisasi. Bahkan bandar itu tidak hanya mengaliri sawah di Jorong Kajai saja, ada yang sampai ke nagari tetangga,” ujarnya.

Eka Yeni menjelaskan, untuk satu tahun panen saja, kerugian masyarakat yang mengelola sawah di lima tali bandar bisa mencapai ratusan juta. “Seandainya satu hektare dengan 40 gantang benih menghasilkan empat ton saja, berarti jika 250 hektare ada seribu ton. Jika harga padi diambil Rp 5.000 per kilo dikali empat ton sudah Rp 20 Juta perhektar. Berarti gambaran kerugian masyarakat 20 juta dikali 250 hektare. Itu untuk satu kali masa panen saja,” jelasnya.

Ke depan sebutnya, pihaknya juga bersama kelompok tani akan berusaha untuk mencari cara bagaimana aliran bandar dapat kembali normal seperti dulu lagi. Sehingga, sawah di Tanahdatar yang berada di jorong itu kembali produktif. (da.)

Baca berita Tanahdatar hari ini di Datiak.com.

Avatar photo